5 Fakta Tes IQ

5 Fakta tes IQ.  Terbiasa mendengar istilah kalau kamu kurang cerdas, artinya IQ mu kurang bagus? Intelligence Quotient (IQ) ini biasanya dihitung berdasarkan kemampuan kognisi, analisis, logika, penalaran, dan lain-lain. Namun ternyata, IQ tidak sepenuhnya alat untuk mengukur kecerdasan seseorang loh. Ada beberapa fakta yang mungkin belum kamu ketahui selama ini tentang IQ. Fakta-faktanya ialah:

1. Awalnya tes IQ dibuat untuk mengukur keterbelakangan mental seseorang. Kalau IQ berada di bawah 70, maka seseorang dapat dikatakan punya keterbelakangan mental.

IQ menggunakan formula perbandingan antara usia mental dan usia sebenarnya. Tes-tes IQ dirancang untuk mengukur usia mental seseorang dengan kemampuan yang seharusnya dimiliki. Selanjutnya hasil tersebut dikalikan 100. Namun, seringnya metode pengukuran ini masih bersifat bias dan kurang akurat.

2. Tes IQ tidak sepenuhnya mutlak karena bergantung terhadap beberapa faktor, seperti: lingkungan dan nutrisi, belum lagi ketika seseorang yang bertambah usianya maka bertambah pula pengetahuannya. Para peneliti juga menemukan bahwa kualitas pendidikan seseorang sangat berpengaruh terhadap tinggi rendah skor yang diperoleh seseorang.

Fakta tentang IQ ini juga didukung oleh sebuah studi yang menyebutkan bahwa, skor tes IQ seseorang bisa saja meningkat seiring dengan meningkatnya usia sosial. Ini terjadi karena dengan adanya pertambahan usia, seseorang tentunya akan bertambah wawasan dan pendidikannya (Flynn Effect).

Jadi dengan kata lain IQ seseorang dapat berubah-ubah. Oleh karena itu, sebenarnya kurang tepat jika mengukur kecerdasan seseorang menggunakan tes IQ.

Ini bisa menunjukkan hubungan IQ tinggi terhadap peluang yang lebih tinggi juga untuk mengalami penyakit mental. Dalam studi lain, dari tahun 2005, para peneliti menemukan bahwa orang yang menghasilkan performa terbaik pada tes matematika juga lebih cenderung memiliki gangguan bipolar.

3. Faktanya, semakin tinggi hasil tes IQ, semakin tinggi risiko gangguan mental. Kalau kamu pernah melihat film “A Beautiful Mind” yang dipernakan olej Russell Crowe, yang menceritakan kehidupan John Nash, peraih Nobel dalam bidang ekonomi, maka kamu akan tahu tragedi seorang ahli matematika terkenal yang berjuang menghadapi schizophrenia. David Foster Wallace, intelektual terkenal lain untuk karya-karya tulisannya, berjuang dengan depresi selama lebih dari 20 tahun — ia bunuh diri pada tahun 2008. Tren dari penyakit mental di kalangan intelektual juga tercatat dalam sejarah dunia yang mencatut nama-nama seperti Abraham Lincoln, Isaac Newton, dan Ernest Hemingway.

 

4. Kalau selama ini kita banyak yang beranggapan bahwa seseorang dengan IQ tinggi ternyata juga cerdas secara sosial, hal ini tidaklah valid. Bertahun-tahun kita sering mendapat gambaran bahwa orang dengan IQ tinggi biasanya lebih suka menarik diri dari pergaulan, sibuk dengan pelbagai penelitian, dan sangat kuno dalam berpakaian.

Meskipun memiliki korelasi, tidak berarti menjadi penyebab utama; dan fakta tentang IQ terbaru telah membuktikan bahwa seseorang dengan IQ tinggi biasanya juga berhasil dalam pendidikan sekaligus kompetensi sosialnya.

5. Einstein selalu menjadi rujukan orang ber-IQ tinggi. Namun, faktanya IQ Albert Einstein hanya separuh dari orang yang IQ-nya tertinggi di dunia. Ada beberapa sumber mengatakan IQ Einstein 160, 180, yang jelas dengan tingkat kecerdasannya itu, dia berhasil menemukan teori relativitas dan berbagai teori penting yang kita pakai sampai saat ini. Tapi nyatanya banyak lho orang yang IQ-nya lebih tinggi dari Einstein.

Seorang insinyur di Korea Selatan, Kim Ung Yong memiliki IQ 210. Pegawai NASA blasteran Jepang – Amerika, Christoper Hirata memiliki IQ 225. Sementara orang paling jenius sedunia adalah William James Sidis, si anak ajaib yang IQ-nya mencapai 300.