7 Negara Ini Mengakui Jenis Kelamin Selain Pria dan Wanita

7 Negara Ini Mengakui Jenis Kelamin Selain Pria dan Wanita. Selama ini kamu pasti hanya akan diberikan pilihan “Pria” atau “Wanita” jika itu terkait pengisian jenis kelamin ketika kamu mengisi form misalnya. Meskipun pada kenyataannya banyak yang tidak mengaku dirinya wanita ataupun pria atau biasa disebut dengan penamaan “transgender. Namun, beberapa negara sudah memberikan pilihan untuk jenis kelamin selain wanita dan pria. Berikut 7 contoh negara tersebut:

1. Nepal

Negara ini menjadi negara pertama yang mengakui hak-hak transgender di mata hukum. Nepal pasti bukan negara yang pertama kali terlintas dalam pikiranmu ketika membahas persamaan hak-hak transgender. Tapi nyatanya, Nepal adalah salah satu negara paling awal yang mulai membahas pengakuan di tataran hukum. Pada tahun 2007, pengadilan tertinggi Nepal mengakui hak individu untuk mengindentifikasi jenis kelamin berdasarkan perasaan atau keinginan pribadi tanpa harus membatasi diri hanya sebagai pria atau wanita. Sejak saat itu, jenis kelamin ketiga di Nepal sudah berhasil diakui lewat dokumen-dokumen resmi sampai bahkan kamar mandi umum. Pada tahun 2015, Monica Shahi jadi transgender pertama yang berhasil memegang paspor resmi dengan gender ‘O’.

2. Pakistan

Keberadaan transgender di Pakistan secara hukum mulai diakui sejak tahun 2009. Namun nyatanya banyak pasal-pasal yang bahkan belum terealisasi sampai sekarang. Kartu identitas dan hak suara dalam pemilihan baru bagi kelompok yang telah diakui sebagai gender ‘O’ ini, baru terealisasi pada tahun 2013.

3. India

India memiliki populasi transgender yang cukup besar. Kelompok transgender secara historis sudah mengidentifikasi diri sebagai ‘hijra’. Pada tahun 2014 akhirnya pemerintah India mengakui persamaan hak-hak dasar transgender dengan penambahan jenis kelamin ketiga di dokumen dan urusan resmi negara.

4. Australia

Di Australia, perjuangan persamaan identitas jenis kelamin ketiga tidak dapat dilepaskan dari sosok ‘Norrie’. Setelah operasi reassignment atau penyesuaian kelamin di tahun 1989, Norrie yang terlahir sebagai pria mulai merasa tidak sesuai menyebut dirinya sebagai pria maupun wanita. Akhirnya pada tahun 2010, Norrie mengajukan perubahan nama dan jenis kelamin yang disebutnya sebagai ‘non-spesific’ ke pengadilan.

Satu kasus inilah yang memulai gerakan diakuinya jenis kelamin ketiga di Australia. Pada bulan September 2011, secara resmi individu intersex atau yang berkelamin ganda dapat memilih gendernya sebagai ‘X’ jika tidak ingin disebut pria atau wanita. Namun gender X ini masih tidak berlaku bagi kelompok transgender lain. Transgender yang terlahir dengan alat genital spesifik pria atau wanita, bisa dengan mudah mengganti preferensi jenis kelamin dari pria ke wanita atau sebaliknya, sesuai keinginan mereka.

5. New Zealand

Mengikuti jejak Australia, negara tetangganya New Zealand juga mengimplementasikan pilihan jenis kelamin ketiga di kartu identitas seperti paspor. Transgender dapat mengubah identifikasi jenis kelamin di paspor mereka dengan cukup mengisi form deklarasi singkat. Dalam form tersebut terdapat pilihan M untuk pria, F untuk wanita, dan X untuk jenis kelamin tidak spesifik. Terpilihnya seorang transgender bernama Georgina Beyer sebagai anggota parlemen pada tahun 2005, juga menjadi dorongan khusus bagi pergerakan transgender agar mendapat persamaan hak.

 6. Jerman

Saat ini Jerman adalah satu-satunya negara yang memberikan pilihan untuk tidak mendaftarkan jenis kelamin pada sertifikat/akta kelahiran, jika bayi lahir dengan kelamin ganda atau intersex. Nantinya ketika anak intersex sudah memasuki usia legal, mereka dapat memilih untuk mengidentifikasikan diri mereka sebagai pria, wanita, maupun ‘X’. Kebijakan ini dibuat karena tingginya angka perbaikan alat kelamin dari anak-anak intersex yang tidak puas dengan ‘pilihan’ jenis kelamin yang dibuat oleh orangtua atau orang dewasa di sekitarnya.

7. Malta

Sama seperti Norrie di Australia, perjuangan persamaan hak transgender di Malta juga identik dengan satu tokoh bernama Joanne Cassar. Selama 9 tahun lamanya, Cassar memperjuangkan haknya untuk dapat menikah secara resmi di hadapan hukum Malta. Perjuangan lamanya akhirnya berbuah manis ketika Cassar berhasil melangsungkan pernikahannya dengan kekasihnya pada bulan Mei 2015.

Perjuangan Cassar tidak hanya terbatas pada kemenangan pribadinya, tapi juga perjuangan kaum transgender di Malta secara umum. Di Malta, pergantian identitas jenis kelamin diberikan kemudahan tanpa harus disertai catatan dokter maupun surat operasi, tapi juga pengakuan adanya jenis kelamin ‘X’ di paspor.