Asal-usul Susunan Huruf di Keyboard

Asal-usul huruf di keyboard. Kamu pasti biasa dong menggunakan keyboard dalam keseharian kamu? Bukan cuma keyboard buat ngetik di komputer deh. Masa iya ga punya ponsel? Nah jaman sekarang rata-rata ponsel keyboard nya pun sudah menggunakan QWERTY keyboard kan. Penasaran ga sih kenapa susunan hurufnya ga sesuai deretan abjad saja?

Meski tak sesuai dengan urutan abjad yang terekam dalam kepala, nyatanya kita tetap bisa menemukan di mana tombol N setelah menulis huruf O tanpa perlu berpikir panjang. Nah ternyata ‘berantakannya’ huruf di keyboard ternyata bukan tanpa maksud lho. Bukan karena sengaja dibuat asal-asalan.

Keyboard diciptakan tahun 1860 an oleh Sholes dan Dunsmore. Awalnya, keyboard juga dibuat secara berurutan sesuai abjad. Namaun, seiring dengan meningkatnya kemampunan pengguna, kecepatan mngetik mejadi lebih cepat padahal mekanisme mesin saat itu masih sangat sederhana. Akibatnya, tombol-tombol tertentu menjadi sering macet dan menghambat pekerjaan.

Penamaan sistem ini diambil dari enam huruf pertama yang terletak di baris awal (QWERTY) yang sudah biasa dipakai sejak era mesin tik pada tahun 1800-an. Keyboard mesin tik jadul pernah memakai sistem berformat abjad. Tapi ternyata susunan ini membuat orang mengetik terlalu cepat.

Berdasarkan pengalaman tersebut, akhirnya di susunlah keyboard yang sengaja dipersulit dan tidak efisien agar tidak mudah jam (macet). Setelah itu, masalah tombol keyboard yang serin macet sudah teratasidenga desain keyboard mekanik yang lebih baik. Akibatnya, sejumlah desain keyboard alternatif muncul di pasaran. Salah satunya adalah DVORAK Simplified Keyboard (DSK) yang di buat oleh August Dvorak tahun 1936. Desain itu diklaim merupakan desain yang lebih efisien dan cepat .Tetapi mungkin karena terlambat DVORAK harus tunduk pada QWERTY yang sudah digunakan oleh Organisasi-organisasi dunia saat itu yang tidak mau repot jika harus mengganti ke susunan DVORAK.

 

Seperti yang diketahui bahwa keyboard di mesin tik terhubung dengan satu tangkai besi yang ujung permukaannya diukir dengan huruf ABDC hingga Z. Setiap kali tombol ditekan, tangkai besi yang bersangkutan akan memukul permukaan kertas dan menorehkan huruf. Ternyata sistem ini bermasalah dengan sistem ABCD. Karena orang mengetik terlalu cepat, padahal dalam bahasa Inggris banyak kata yang memakai huruf-huruf berdekatan. Akibatnya, tangkai-tangkai besi saling bertemu dan macet di tengah jalan.

Jadi mengetik terlalu cepat ini justru menghambat pekerjaan. Untuk menyiasati hal ini pada tahun 1874, Christopher Sholes membuat sistem QWERTY yang tujuannya untuk memperlambat proses pengetikan.

Saat ini di era smartphone dan touchscreen, mulai ada alternatif keyboard lain seperti KALQ. Dalam sistem ini, huruf abjad dibagi menjadi dua blok yaitu 16 huruf di kiri dan 12 huruf di kanan. Dengan sistem keyboard ini, kedua tangan bisa bekerja dengan porsi yang sama. Mengetik pun bisa lebih cepat karena jempol bisa bekerja dengan maksimal juga. Keyboard KALQ ini cocok untuk kamu yang sulit lepas dari media sosial. Saat ini, keyboard KALQ masih dalam tahap pengembangan. Mari kita tunggu saja apakah KALQ ini dapat menggeser posisi QWERTY yang sudah lebih dari 140 tahun berjaya? Kalaupun bisa, tentunya harus adaptasi lagi nih.