Fakta di Balik Hari Pahlawan Nasional

Fakta di Balik Hari Pahlawan Nasional. Hari Pahlawan diperingati sebagai hari di mana pada 10 November 1945, para tentara dan milisi indonesia yang pro-kemerdekaan melakukan pertempuran di Surabaya melawan tentara Britania Raya dan Belanda sebagai bagian dari Revolusi Nasional Indonesia. “Perkokoh Persatuan untuk Membangun Negeri” menjadi tema Hari Pahlawan tahun ini.

Namun di balik peristiwa bersejarah tersebut, terdapat beberapa fakta unik antara lain:

1. Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) saat itu juga mendapat seragam seperti Tentara Republik Indonesia, yaitu berwarna khaki. Menggunakan celana warna tersebut pada saat itu adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Karena keadaan waktu itu, hampir setiap hari serangan bertubi-tubi menyerang dan membuat mereka tidak pernah sempat berganti pakaian. Hasilnya, celana yang awalnya berwarna khaki berubah menjadi kehitam-hitaman.

2. Pertempuran Surabaya ini menjadi salah satu pertempuran yang paling tidak ingin diingat oleh Pasukan Sekutu, terlebih Inggris.

Bagaimana tidak, di kota inilah pasukan elite Inggris dipaksa mengibarkan bendera putih dan meminta bantuan pimpinan musuh (Republik) untuk menghentikan peperangan.

3. Nggak cuma tentara dan polisi yang berjuang mengangkat senjata melawan penjajah. Tokoh-tokoh agama seperti kiai pondok pesantren di Jawa pun nggak absen ikut berperang.

KH Hasjim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah dan masih banyak kiai lainnya mengerahkan para santrinya sebagai milisi perlawanan penjajah. Karena pada saat itu banyak masyarakat yang lebih patuh terhadap kiai dibanding kepada pemerintah. Makanya kekuatan para kiai saat itu juga cukup berpengaruh terhadap perlawanan Indonesia pada penjajah.

4. Dalam sebuah sosialisasi gencatan senjata, Mallaby menaiki mobil Buick milik Residen Surabaya, Sudirman. Tanpa sepengetahuannya, tiba-tiba sebuah granat melayang dan mengenai mobil tersebut. Mallaby tewas seketika.

Tapi ada versi lain yang menyebut Mallaby tewas ditembak di tempat dari jarak dekat.

5. Saat perang meletus, Bung Tomo justru ditawan oleh laskar. Usut punya usut, penawanan itu adalah instruksi dari Cak Mus alias dr. Mustopo, Pemimpin Markas Besar Tentara Jawa Timur, untuk melindungi Bung Tomo yang dianggap sebagai orang penting.

6. Saat pertempuran besar-besaran di Surabaya 10 November 1945, nggak cuma para laki-laki dan tentara saja yang berperang. Rakyat sipil, pemuda dan bapak-bapak juga ikut berperang untuk mengusir penjajah. Ibu-ibu dan remaja putri pun nggak mau kalah, perempuan-perempuan saat itu juga berperan besar. Mereka bertugas sebagai perawat dan menyediakan makanan dengan memasak di dapur umum.

7. Saat pertempuran terjadi, banyak pemuda dari laskar-laskar yang ada di Surabaya belum tahu cara melempar granat. Mereka tidak paham kalau sebelum dilempar, granat harus dicabut picunya terlebih dahulu. Gambaran ini pernah disinggung sekilas oleh Imam Tantowi dalam filmnya Merdeka atau Mati: Soerabaia 45.