Faktanya, Bahasan Utama Dari ‘Kama Sutra’ Bukan Seks! Melainkan Kehidupan.

Jika mendengar kata ‘Kama Sutra’ pasti kalian langsung berpikir tentang posisi dalam hubungan seksual kan? Tapi tahukah kalian, ternyata pembahasan seks hanya 20% dari keseluruhan buku Kama Sutra!

 

Buku ini ditulis pada tahun 300 SM (Sebelum Masehi) oleh seorang pendeta Hindu bernama Mallanaga Vatsyayana. Buku yang aslinya berbahasa sansekerta ini mengisahkan tentang kehidupan dan mengandung unsur nilai-nilai sosial. Tetapi ada satu bab khusus yang ditulis berisikan posisi-posisi hubungan seksual. Bab ini yang akhirnya menjadi identik dengan Kama Sutra. Buku ini pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Sir Richard Francis Burton pada tahun 1883, dan menyita perhatian dunia.

 

‘Kama Sutra’ sendiri terdiri dari 2 kata yaitu Kama dan Sutra. ‘Kama’ merupakan salah satu tujuan hidup yang diajarkan dalam ajaran Hindu, yaitu ‘hasrat’. Sedangkan ‘Sutra‘ berarti manual atau petunjuk-petunjuk melakukan sesuatu. Nah salah satu hasrat yang dimaksud dalam buku ini memang hasrat seksual. Tapi ada juga hasrat-hasrat lain yang dibahas dalam Kamasutra.

Secara keseluruhan buku ini berisi manual untuk menjalani dan menentukan prioritas hidup, mendapatkan pengetahuan, persatuan manusia dalam pernikahan, serta hubungan pria dan wanita secara secara keseluruhan dalam kehidupan.