Faktanya, Sniper Dibenci Lawan Maupun Kawan

Sniper atau penembak runduk di beberapa film atau game selalu digambarkan sebagai sosok yang dinanti kawan dan ditakuti lawan. Kemampuan menembak akurat dari prajurit jagoan kamuflase tersebut nyatanya memang ditakuti siapapun yang menjadi sasarannya.

Namun, hidup mereka ternyata tidak seglamor yang digambarkan oleh film maupun game. Bahkan, bisa dikata mereka hidup dalam tekanan, baik dari lawan maupun kawan. Lawan, sudah pasti – tapi kawan juga membencinya?

Melalui buku berjudul Out of Nowhere yang ditulis oleh Martin Pegler, barulah terkuak misteri kehidupan yang dijalani oleh para Sniper di era Perang Dunia Pertama dan Kedua. Sebagai Sniper yang ikut serta dalam perang tersebut, Martin Pegler menceritakan dengan detail beragam kisah di balik tentara mematikan tersebut, termasuk perlakuan terhadap Sniper.

Ternyata, tentara yang ada di pihak sama membenci kehadiran Sniper di tengah mereka. Alasannya, Sniper mengundang bencana bagi pasukan yang ada di sekitarnya. Sebab, ketika Sniper melepaskan pelurunya, lawannya pasti kena. Tidak seperti tentara biasa yang bisa melepas ratusan butir peluru dan belum tentu lawannya kena.

Akibat akurasi tersebut, lawan akan berlindung dan tidak berani mengintip sekalipun. Serangan terhadap moral dan semangat tempur tersebut otomatis membuat rantai komando lumpuh. Satu-satunya cara untuk menghabisi Sniper yang tidak jelas posisinya adalah dengan memanggil artileri, mengirim tank, dan menghujaninya dengan bom dari pesawat.

Reaksinya berlebihan? Faktanya, tidak. Karena, cara inilah yang selalu digunakan ketika pasukan bertemu Sniper. Akibatnya, pasukan kawan dari sang Sniper yang ada di dekatnya, setidaknya yang ada di radius bukit sama, akan terhantam serangan artileri atau bom! Padahal ketika perang frontal hal itu jarang sekali mereka temui!

Karena merasa biang keroknya adalah sang Sniper, maka ia selalu dikucilkan oleh tentara lain pada masa Perang Dunia Pertama dan Kedua. Untungnya, persyaratan utama menjadi Sniper adalah penyendiri dan anti-sosial, yang menjadi modal utamanya ketika bekerja di daerah lawan selama berminggu-minggu lamanya.