Filosofi 4 Lomba Khas 17 Agustus-an

Filosofi 4 Lomba Khas 17 Agustus-an. Bulan Agustus menjadi bulan penting bagi Indonesia, tepatnya pada setiap tanggal 17 Agustus setiap tahunnya. Tanggal tersebut merupakan tanggal penting di mana 72 tahun yang lalu Indonesia akhirnya bisa secara konstitusional berdiri sebagai Republik Indonesia, bebas dari penjajahan. Salah satu cara merayakan ulang tahun Indonesia ini ialah dengan hadirnya berbagai macam perlombaan 17 Agustus-an. Namun tahukah kamu bahwa di balik perlombaan yang mungkin pernah dan selalu kamu ikuti tiap 17-an itu memiliki filosofi tersendiri di dalamnya? Berikut beberapa perlombaan yang sering ada pada perayaan 17 Agustus.

1. Lomba Makan Kerupuk

Sesuai dengan namanya, lomba ini tentu akan melibatkan kerupuk di dalamnya. Di mana kerupuk terikat pada seutas tali, dan digantung yang tingginya di atas mulut peserta lomba. Aturan mainnya, kedua tangan tidak boleh memegang tali/kerupuk, untuk itu kedua tangan disembunyikan di belakang pinggang. Peserta diharuskan secepat mungkin menghabiskan kerupuk yang ada di hadapannya.

Permainan ini memiliki filosofi di mana di jaman penjajahan dulu rakyat mengalami kesulitan sandang, pangan dan papan. Untuk makan yang paling sederhana sekali (diibaratkan seperti kerupuk), rakyat pun mengalami kesulitan, akibat hasil panen penduduk diambil paksa oleh penguasa. Akibatnya, banyak rakyat yang kurang gizi bahkan mati kelaparan.

Namun ternyata di beberapa daerah di Indonesia justru ada lomba makan kerupuk bersama nasi dan lauknya loh. Bahkan, ada juga beberapa daerah yang mengadakan lomba makan kerupuk yang ditaburi sambal di bagian atasnya. Hal ini mereka lakukan, agar terlihat lebih modern dan menghibur.

2. Lomba Balap Karung

Lomba ini memerlukan ketangkasan fisik para pesertanya. Karena bukan sekedar balapan berlari biasa, namun ada atribut yang harus dikenakan, yakni karung. Para pemain harus masuk ke dalam karung, kemudian harus segera mungkin mencapai garis akhir dengan cara melompat-lompat. Tidak jarang pemain terjatuh berguling-guling.

Karung yang digunakan biasanya karung yang berserat kasar. Filosofinya ialah kita akan tahu betapa sulitnya berlari ketika kedua kaki terkungkung di dalam karung. Seperti kungkungan penjajah terhadap kebebasan rakyat untuk kemajuan bangsa Indonesia. Selain itu, karung tersebut mengingatkan pada saat dijajah oleh Jepang. Sebagian besar rakyat mengalami penderitaan sangat berat, karena bahan pakaian sengaja tidak didistribusikan sehingga yang tertinggal hanyalah karung goni bekas.

Namun kalau dulu lomba ini lebih sering menggunakan karung goni, berbeda saat ini. Beberapa daerah sudah meninggalkan karung goni dan menggantinya dengan karung plastik (glangsi).

3. Lomba Tarik Tambang

Lomba ini memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi, khususnya masalah stamina tubuh. Karena, para peserta harus saling tarik menarik mengunakan Tali Tambang satu sama lainnya. Kebayang dong sekeras apa tali tambang itu?

Sejarah dari perlombaan ini ialah dahulu kala, rakyat Indonesia dipaksa oleh Belanda untuk bekerja keras dan berat, salah satunya dengan menggunakan tali tambang untuk menarik batu dan benda-benda lainnya. Karena kurangnya hiburan di masa tersebut, para pekerja di zaman tersebut menggunakan tali tambang sebagai bahan guyonan/candaan.

Sampai saat ini, tarik tambang justru dijadikan sebagai salah satu lomba 17 Agustus yang tidak boleh terlewat karena memiliki tujuan bahwa persatuan sebagai modal utama untuk mengalahkan penjajah/lawan. Permainan ini juga mengajarkan bagaimana membentuk tim yang kompak dalam menyusun strategi yang tepat untuk dapat menarik tambang dengan mantap.

4. Lomba Panjat Pinang

Semua orang Indonesia yang mengenal perlombaan saat 17 agustus-an tentu akan tidak asing lagi dengan lomba yang satu ini. Lomba panjat pinang sudah menjadi ikon utama penghias kemeriahan 17 Agustus. Aturan mainnya sederhana, hanya cukup bekerja sama dengan tim untuk memanjat pohon pinang setinggi 10 meter yang sudah dilumuri dengan oli. Meskipun terlihat sederhana, namun nyatanya tidak semua orang mampu menyelesaikan tantangan ini karena licinnya oli tersebut.

Biasanya, lomba ini diikuti oleh pria remaja sampai dewasa dengan aturan 3-5 orang per tim. Setiap tim yang berhasil sampai di puncak akan mendapatkan setiap hadiah yang tergantung di sana.

Sebenarnya permainan Panjat Pinang ini berasal dari Belanda dengan nama “De Klimast” yang artinya tiang panjang. Saat dibawa ke Indonesia, tidak seorang Belanda pun yang mau mengikuti perlombaan ini karena dianggap menjijikan karena orang yang berada di bawah harus rela diinjak-injak hingga sampai ke atas. Nah, kata ‘diinjak’ inilah yang membuat orang Belanda mempunyai inisiatif mengadakan perlombaan ini untuk menertawakan masyarakat pribumi.

Karena dahulu bangsa kita kesulitan bahan pangan, maka banyak rakyat pribumi yang rela dengan senang hati berbondong-bondong mengikuti perlombaan tersebut hanya untuk mendapatkan sedikit beras yang tergantung di atas tiang/batang pinang tersebut.

Namun saat ini selain bahan-bahan sembako, biasanya yang digantung ada juga barang-barang elektronik.