Jepang Berikan Ekstra Cuti Untuk Perokok Pasif

Jepang Berikan Ekstra Cuti Untuk Perokok Pasif. Rokok menjadi salah satu isu yang sulit diselesaikan di seluruh dunia. Kebiasaan tersebut tidaklah baik bagi kesehatan, namun tidak sedikitnya orang merokok, menyebabkan sulitnya kebiasaan tidak baik ini dihentikan. Pasalnya, dampak rokok bukan hanya untuk perokok aktif, namun juga yang pasif.

Salah satu yang melakukan gebrakan unik dan revolusioner untuk memperjuangkan hak non-smoker atau orang yang tidak merokok datang dari sebuah perusahaan marketing di Tokyo, Jepang. Perusahaan bernama Piala Inc. memberikan hak cuti lebih banyak bagi karyawannya yang tidak merokok. Karyawan yang tidak merokok mendapat ekstra 6 hari cuti.

Peraturan ini berawal dari keluhan non-smoker yang merasa bahwa ‘smoke break‘ menyita terlalu banyak waktu. Hal ini dirasa tidak adil bagi mereka karena karyawan yang tidak merokok setiap hari akhirnya jadi bekerja lebih lama. Hal ini dikarenakan pekerja di perusahaan ini yang notabene smoker, membutuhkan waktu ± 15 menit untuk merokok di basement.

Para perokok di Jepang memang sangat tertib aturan, yakni selalu merokok di tempat atau area khusus rokok yang disediakan di berbagai tempat publik. Meskipun begitu, ternyata karyawan-karyawan Piala Inc. yang tidak merokok tetap merasa keberatan dengan kebiasaan merokok rekan-rekan kerjanya.

Takao Asuka, selaku CEO Piala Inc. membuat kebijakan baru di sana karena tidak sedikit perokok yang butuh lebih dari satu ‘smoke break‘ di jam kantor. Hal ini membuat tidak produktif kerja dan membebankan kepada yang tidak merokok.

Akhirnya Asuka memberikan kompensasi 6 hari ekstra cuti bagi karyawan yang tidak merokok. Menurut Asuka, karyawan-karyawan yang tidak merokok memang berhak mendapatkan cuti lebih karena mereka tidak pernah memakai jam kantornya untuk ‘smoke break‘. Kebijakan ini bukan cuma bertujuan sebagai kompensasi waktu, tapi juga agar jadi motivasi atau dorongan bagi karyawannya yang merokok untuk berhenti. Daripada mengeluarkan larangan, kebijakan yang seperti ini dinilai Asuka jauh lebih efektif.

Kira-kira hal ini bisa diterapkan ga yah di Indonesia?