Terbatasnya Internet di Korea Utara

Terbatasnya Internet di Korea Utara. Korea Utara terkenal “eksklusif”. Di mana sulitnya akses baik itu ke luar maupun ke dalam negara yang sering bersiteru dengan Korea Selatan ini. Salah satu hal yang dibatasi di Korea Utara ialah akses internet.

Internet saat ini merupakan kebutuhan penting di seluruh dunia. Di mana dengan internet, orang-orang bisa melihat dunia lain tanpa harus mendatangi langsung. Di Korea Utara sendiri, internet memang ada. Namun, aksesnya sangat dibatasi khusus untuk turis dan jajaran eksekutif saja.

Kebanyakan masyarakat di Korea Utara menggunakan internet via jaringan internal yang disebut Kwangmyong. Tercatat, jaringan intranet ini hanya menyediakan 22 situs lokal, satu di antaranya merupakan situs e-Commerce bernama Okryu, yang merupakan satu-satunya e-Commerce yang ada di Korea Utara.

Untuk aplikasi sosial media ternama, Facebook pun dilarang di Korea Utara. Meskipun begitu, Korea Utara menghadirkan kloningan Facebook, yaitu Best Korea’s Social Network.

 

Kalau kamu berpikir internet tidak diperlukan, lantas bagaimana dengan komputer dan smartphone di sana yang seharusnya bisa mengakses internet? Di Korea Utara, smartphone masih menjadi barang asing. Sampai-sampai, ada seseorang yang mengatakan bahwa smartphone adalah barang dari masa depan. Orang-orang di sana masih menggunakan ponsel klasik yang fungsinya hanya untuk menelepon atau sekadar ber-SMS dan sedikit orang yang menggunakan smartphone.

Sedangkan untuk komputer, hanya diperuntukkan untuk masyarakat dari kalangan atas. Contohnya, mahasiswa dari Universitas Pyongyang. Kebanyakan dari mereka yang berasal dari keluarga berada, diperbolehkan menggunakan komputer meskipun ‘gerak-gerik’ mereka tetap dibatasi.

Sistem operasi (OS) yang digunakan boleh berasal dari luar, seperti Windows atau MacOS. Namun pemerintah Korea Utara sendiri pun memiliki sistem operasi buatannya sendiri yang bernama Red Star.

Red Star merupakan OS yang hanya terdiri dari sejumlah aplikasi utama, seperti aplikasi pengolah kata, kalender, dan layanan musik offline. OS tersebut memiliki desain yang serupa dengan MacOS, OS buatan Apple.