Ternyata Permainan Tradisional Ini Tidak Hanya Ada di Indonesia

Ternyata Permainan Tradisional Ini Tidak Hanya Ada di Indonesia. Masa kecil adalah masa di mana kita kaan menghabiskan banyak waktu dengan bermain. Tentu banyak orang yang ingin kembali ke masa kecilnya untuk memenuhi kerinduan bermain permainan-permainan yang mungkin sulit untuk di rasakan saat ini. Di era digital saat ini, sangatlah biasa jika menemukan anak kecil sudah mahir menggunakan gadget seperti tablet, smartphone yang berisi permainan-permainan. Namun, buat kamu yang pernah mengalami rasanya bermain permainan tradisional seperti apa, kamu pasti akan merindukan saat-saat itu. Tahukah kamu kalau sebenarnya beberapa permainan tradisional yang mungkin dulu sering kamu mainkan tidak hanya dimainkan di Indonesia loh, tapi juga di negara lain.

1. Hopscotch (Engklek)

Siapa yang sangka kan permainan yang kamu kenal mungkin dengan sebutan “Engklek”  ini justru dikenal di kebanyakan negara Eropa dengan sebutan “Hopscotch”. Sama seperti di Indonesia kok cara bermainnya, pemain dapat menggunakan batu, pecahan pot atau apapun yang pipih dan berat sebagai media lemparan. Pemain harus melompati kotak pola yang sudah digambar dengan satu kaki secara bergiliran. Pada pola tertentu dituntut pula untuk berjalan dan melompat baik dengan satu kaki ataupun dua kaki. Jika pemain yang dapat giliran bermain menginjak garis, berjalan dengan dua kaki ataupun kehilangan kesimbangan, itu artinya giliran teman lainnya untuk bermain.

Misinya ialah siapa yang paling dahulu menaruh benda hingga mencapai kotak tertinggi. Permainan ini dimainkan minimal dua orang atau lebih (meskipun bisa-bisa saja jika bermain sendirian).

Sebuah sajak di Morecambe, Inggris menunjukkan bahwa permainan ini sudah dimainkan sejak abad ke- 17. Di samping itu ada pula fakta yang menunjukkan bahwa permainan ini sudah populer sejak masa kekaisaran Romawi lalu tersebar hingga ke negara-negara lainnya.

2. Mancala (Congklak)

Mancala ialah sebutan untuk permainan yang biasa disebut dengan “Congklak” di Indonesia. Mancala yang berasal dari Timur Tengah ini memiliki cara bermain yang sama dengan Congklak di Indonesia.

Setiap pemain harus mengambil dan memindahkan setiap biji yang diambilnya dari satu rongga ke rongga lain secara berurutan. Perbedaannya hanya ukuran papan Mancala sedikit lebih besar dan biji-bijiannya juga terbuat dari bahan khusus.

Di Indonesia sendiri, congklak merupakan permainan khas Jawa, di mana dibawa pertama kali oleh warga Arab yang sedang berhijrah ke Asia untuk berdagang dan berdakwah.

Lain di Indonesia dan Timur Tengah, kalau di Filipina permainan ini dinamakan “Sungka”. Pada zaman dahulu, golongan istana bermain congklak dengan menggunakan papan congklak yang berukir mewah, sementara di kalangan rakyat jelata, dimainkan dengan mengorek lubang di dalam tanah dan mengunakan biji-bijian.

Lubang pada papan congklak biasanya berjumlah 16 buah dengan masing-masing sisi papan terdapat 7 buah lubang dan 2 buah lubang di masing-masing pojokan/ujung papannya. Permainan ini memerlukan 98 buah biji sawo/batu kerikil, dengan 7 buah lubang itu diisi 7 buah biji untuk masing-masing lubangnya. Jadi, masing-masing pemain memiliki 49 buah biji kecil yang siap dijalankan.

Misinya ialah siapa yang paling banyak mengumpulkan biji pada tabungannya (lubang-lubang yang ada di pojok), itulah pemenangnya.

3. Kites (Layang-layang)

Entah sejak kapan layang-layang dikenal di Indonesia. Belum ada sumber sejarah yang menyebutnya secara pasti. Beberapa rangkaian relief cerita pada candi sekilas hanya menampilkan layang-layang berupa bagian dari tumbuhan yang diterbangkan dengan seutas tali.

Penemuan sebuah lukisan gua di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, pada awal abad ke-21 yang memberikan kesan orang bermain layang-layang, menimbulkan spekulasi bahwa tradisi layang-layang sudah lama muncul di Nusantara. Di Nusantara banyak ditemukan bentuk-bentuk primitif layang-layang yang terbuat dari daun-daunan. Di kawasan Nusantara sendiri catatan pertama mengenai layang-layang adalah dari Sejarah Melayu (Sulalatus Salatin) dari abad ke-17, yang menceritakan suatu festival layang-layang yang diikuti oleh seorang pembesar kerajaan.

Menurut sumber lain, layang-layang pertama kali dikenal sekitar 3.000 tahun yang lalu di China. Di negara itu layang-layang disebut ”rajawali kertas”. Dari sana, layang-layang mulai disebarluaskan ke negara Asia lain seperti Korea, Jepang, Malaysia dan India. Pendapat lain mengatakan, layang-layang ditemukan pada abad ke-5 SM oleh ilmuwan Yunani dari Tarentum.

Jadi, untuk layang-layang sendiri memang sudah dikenal lebih dulu di luar negeri dibandingkan di Indonesia.

4. Hakan Tuncer (Kelereng)

Di Turki, permainan gundu/kelereng yang terkenal di Indonesia dan biasa dimainkan oleh anak laki-laki ini disebut dengan “Hakan Tuncer”. Medium khas untuk bermainnya pun sama, terbuat dari bola kaca.

Hanya saja, jika di Indonesia para pemainnya menggambarkan lingkaran sebagai batas untuk meletakkan kelereng, di Turki tidak menggunakan lingkaran, melainkan segitiga. Para pemain harus berusaha menyingkirkan kelereng lawan keluar dari garis batas segitiga.

Sebenarnya, selain kaca, kelereng pun dapat dibuat dari tanah liat, atau batu dengan ukuran yang juga bermacam-macam, umumnya ½ inci (1.25 cm) dari ujung ke ujung.

Sejak abad ke-12, di Prancis, kelereng disebut dengan “Bille”, artinya bola kecil. Lain halnya di Belanda, sebutannya ialah “Knikkers”, sedangkan sejak tahun 1694 Inggris menyebutnya dengan nama “Marbles”.

Pada zaman Romawi, permainan ini merupakan salah satu permainan dari festival Saturnalia. Selain itu menjelang Natal, mereka memiliki kebiasaan memberikan satu kantung kelereng sebagai tanda persahabatan. Pada abad ke-16 hingga abad 19, permainan kelereng sangat populer di Inggris dan kawasan Eropa lain hingga menyebar ke Amerika dan seluruh dunia.

Jika pada awalnya kelereng terbuat dari biji-bijian, tanah liat dan batu, kelereng mengalami perkembangan dari segi bahan dan tampilan sejak abad ke- 12.

Jerman pertama kali memperkenalkan dan memproduksi massal kelereng berbahan kaca pada tahun 1864. Kelereng ini langsung diminati pasar karena bentuknya tidak polos dan berwarna-warni. Hingga kini hanya teknologi pembuatan kelereng dari bahan kaca yang masih digunakan secara massal.

5. Jimena Baquero (Lompat Tali)

Tentunya, banyak orang yang menyukai jenis permainan satu ini, yaitu lompat tali. Permainan tradisional ini juga terdapat di Kolombia dengan sebutan “Jimena Baquero”. Baik cara bermain maupun alat yang digunakan pun sama dengan di Indonesia, yaitu melompati tali dengan ketinggian berbeda-beda dan menggunakan rangkaian karet yang disusun menjadi sebuah tali panjang.

Permainan ini harus dimainkan minimal 3 orang yang mana satu orang sebagai peloncat tali dan dua yang memegang ujung setiap tali. Ketinggian di mulai dari sebatas lutut, pinggang, dada sampai dengan level tertinggi yaitu di atas kepala yang disebut heaven.

Namun sebenarnya jika kekurangan orang untuk memegang tali pun, alternatifnya ialah dengan mengikatkan tali ke pohon atau apapun yang bisa untuk memegang tali ataupun karet.

Misinya ialah siapa yang bisa lebih dahulu lompat hingga tali tertinggi, dia lah pemenangnya.

6. Agawan Base (Bentengan)

Ingat permainan bentengan? Permainan yang dimainkan beregu ini dikenal dengan nama “Agawan Base” di Filipina. Permainan ini dimainkan dengan cara membentuk 2 kelompok dengan jumlah sama dan harus menjaga base / benteng masing-masing. Strategi bisa dilakukan bermacam-macam. Intinya harus ada yang tetap standby menjaga benteng dan ada juga yang bertugas sebagai penyerang untuk merebut dan menguasai benteng lawan. Biasanya, sebuah tiang atau pilar dijadikan sebagai “Benteng”. Permainan ini biasanya dilakukan di lapangan atau tanah kosong yang cukup luas karena memang mengharuskan berlari.

Namun ada yang sedikit berbeda cara bermainnya antara di Indonesia dan di Filipina. Kalau di Indonesia misinya hanyalah menyerang, mempertahankan base/benteng, dan permainan akan berakhir jika ada salah satu pihak tidak dapat menjaga daerahnya, di Filipina justru ada model perpindahan tempat jika salah satu pihak berhasil dikalahkan. Jika satu pihak berhasil mengalahkan lawannya sebanyak 5 kali, maka mereka dianggap memenangkan permainan.

Selain merebut benteng, kemenangan di permainan ini juga bisa diraih dengan “menawan” seluruh anggota lawan dengan cara menyentuh tubuh mereka. Untuk menentukan siapa yang berhak menjadi “penawan” dan yang “tertawan” ditentukan dari waktu terakhir saat si “penawan” atau “tertawan” menyentuh base/benteng mereka masing-masing.